ANTARA DANGDUT, PUNK, DAN SLANK

0
Dangdut, musiknya rakyat Indonesia, katanya. Tak jarang kita jumpai acara musik yang diisi oleh lagu dangdut, mulai dari pedesaan hingga kota. Musiknya asik membuat orang hendak berjoget mendengarkan alunan musiknya. Akan tetapi dibalik musiknya yang asik dan musiknya orang Indonesia, dangdut dianggap sebagai musik yang negatif, mulai dari tampilan para biduan, video musik yang tidak senonoh, lirik yang dianggap tidak bermoral.

Punk, lain halnya dengan dangdut merupakan aliran musik impor dari Britania Raya. Dianggap sebagai suara kebebasan dan keresahan sosial masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Dangdut dan Punk memiliki kesamaan, yakni samasamadigemari oleh masyarakat menengah ke bawah. Akan tetapi kini, dangdut yang notabene musik asli Indonesia mesti tergerus oleh Punk, dangdut dianggap sebagai musik yang kampungan.

Jeremy Wallach mengemukakan pada disertasinya yang berjudul Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in
Indonesia 1997-2001 bahwa musik yang menyuarakan keresahan rakyat Indonesia mayoritas sesungguhnya
adalah dangdut, bukan punk. Dilema, dangdut terjebak dalam dilema diantara kesuksesan pasarnya serta kekuatan mereka untuk memberikan dampak pada sosial.

Musik dangdut memiliki kapabilitas untuk menyuarakan keresahan masyarakat Indonesia seperti halnya apa yang dilakukan generasi Rhoma Irama, namun kesuksesan pasarnya saat ini telahmembuat para pelakunya tenggelam dalam kelamnya gemerlap. Budaya Punk yang menginvasi Indonesia pada akhir 80-an mempengaruhi grup
musik terbesar Indonesia kini, Slank. Beda halnya dengan kebanyakan musisi dangdut yang dipenuhi gemerlap dan rayuan manis, Slank adalah grup musik yang apa adanya, bermulut pedas bahkan tak sungkan mengumpat. Sebagai grup musik yang memiliki pengaruh terbesar di Indonesia, Slank kerap kali bisa merasakan keresahan sosial dan
menyuarakannya dengan lantang, tak peduli dicecar sana-sini. Sedangkan dangdut yang katanya musik rakyat Indonesia hanya menawarkan imaji akan hidup yang penuh dengan drama, dan tentunya sensualitas. Tentunya dangdut masa kini. Bila saja dangdut bisa kembali dipandang terhormat layak zaman Rhoma Irama yang belum
dirasuki hasrat terjun ke politik, atau bahkan bisa seperti Slank, maka tak akan ada lagi bapak yang ditempeleng panci oleh si istri akibat terlalu asik ngejogetin si biduan, janda kemarin sore. Atau kah memang ini adalah takdir dangdut? Berakhir sebagai musik yang kampungan dan tidak bermoral.

by: Alit.